Pseudo Ilmiah : Komentar-1

November 20, 2008

Anda DILARANG membaca isi blog ini, sebelum menyetujui ISI dari pernyataan pada: http://islamkristen.wordpress.com/warning/

=============================================================

Kita boleh saja meyakini Islam sebagai agama yang pro-ilmu pengetahuan. Tapi, sikap itu tak perlu ditempuh dengan cara “mencocok-cocokan” atau mencari ayat mana yang sesuai dengan fakta ilmiah tertentu. Sikap yang benar adalah terbukanya nalar sehingga mau mempelajari ilmu pengetahuan darimanapun asalnya. Tidak perlu membeda-bedakan ilmu pengetahuan di bidang teknik maupun sosial.

Selalu ada kecenderungan unik dari pola pikir fundamentalisme agama. Para fundamentalis Islam misalnya, sangat giat mengampanyekan Islam yang syâmil-mutakâmil (mencakup segala sesuatu). Mereka juga senang merujukkan berbagai penemuan ilmiah mutakhir para ilmuwan Barat sebagai sesuatu yang sudah berpreseden dalam Islam. Kita kerap mendengar bidang-bidang keilmuan seperti astronomi, kimia, fisika, geografi dan sejarah, dikait-kaitkan dengan nama-nama ilmuwan Islam Abad pertengahan seperti al-Biruni, al-Kindi, Ibnu Khaldun, Ibnu Sina dan lainnya.

Perilaku ini ingin menegaskan satu hal: kemajuan ilmu pengetahuan Barat tergantung sepenuhnya atau kelanjutan saja dari era gemilang peradaban Islam. Dengan kata lain, peradaban Barat yang kini maju, berhutang besar pada Islam masa lampau. Benar, dulu Barat sempat berhutang besar pada Islam. Benar juga bahwa peradaban Islam pernah unggul di bidang ilmu pengetahuan berkat penemuan-penemuan para sarjana Muslim. Namun, kaum fundamentalis kurang menyadari bahwa kemajuan Barat saat ini bukanlah hasil jiplakan sekali jadi. Ia merupakan akumulasi dari proses penemuan dan pengembangan yang tiada henti.

Kecenderungan lain adalah: anggapan bahwa sains yang benar adalah yang bersumber dari Alquran, atau sekurang-kurangnya punya kesesuaian dengan Alquran. Ini adalah klaim penolakan terhadap sekularisasi ilmu pengetahuan. Dengan kata lain, sains yang dianggap benar adalah yang berakar dan tidak “bertentangan” dengan wahyu. Lalu, munculah buku-buku yang mengulas keterkaitan sains tertentu dengan Alquran ataupun Hadits. Buku-buku tersebut bercorak geneologis. Artinya, berusaha mencari akar pengetahuan itu sampai kepada penemu di lingkungan Islam.

Interaksi Peradaban

Yang perlu dicatat, kemajuan peradaban Islam klasik tidaklah berdiri sendiri. Ia merupakan hasil interaksi yang dinamis dengan peradaban lain seperti Yunani, Mesir, Persia dan India. Tokoh-tokoh ilmuwan Islam masa itu sangat rajin berdialog dengan cara mempelajari peradaban lain. Kesan terbuka, toleran dan pluralis, amat menonjol dalam karakter ilmuwan Islam masa itu. Karakter tersebut jelas-jelas berseberangan dengan karakter kaum fundamentalis yang ingin memajukan Islam dengan jalan menutup diri dan bahkan berkonfrontasi.

Dalam literatur ilmuwan Islam masa silam, jarang sekali ditemukan tulisan-tulisan yang bernada menyerang atau membeda-bedakan diri dengan peradaban lain. Dalam ungkapan Hasan Hanafi, persoalan anâ (ego) dan al-âkhar (the other), bukanlah aspek pembedaan yang penting dalam ilmu pengetahuan. Yang paling menonjol justru semangat ekumenis dan persatuan. Orang-orang semacam al-Farabi dan Ibnu Sina selalu berupaya mendekatkan nabi-nabi besar dengan para filosof Yunani.

Keanehan lain pemikiran fundamentalis: mereka hanya memuji para ilmuwan Islam dari aspek penemuan ilmiahnya. Dalam segi agamanya, mereka justru “dijelek-jelekan”. Tuduhan-tuduhan sesat, heterodoks dan sinkretis, kerap kali dialamatkan pada para filosof dan ilmuwan Islam itu. Kontradiksi ini memang cukup aneh. Di satu sisi, mereka ingin sekali mengklaim kemajuan Barat berkat jasa Islam. Tapi, ketika tahu bahwa kemajuan Islam merupakan buah karya para filosof “liberal” dan inklusif, mereka segera menarik klaim dan menyatakan bahwa para filosof itu sesat dan menyimpang dari ortodoksi Islam.

Lalu muncullah ide baru yang lebih dianggap valid untuk menjawab kontradiksi: Alquranlah yang sesungguhnya menjadi sumber kemajuan ilmu pengetahuan yang dikembangkan oleh ilmuwan Islam itu. Beragam argumen dikemukakan untuk meyakinkan bahwa Alquran telah mengajarkan astronomi, farmasi, geografi, fisika, dan lain sebagainya.

Para apolog-pseudo-sains-Islam ini (demikian saya menyebutnya), lalu berusaha menggali segala aspek Alqur’an yang menurut mereka mengandung unsur-unsur pengetahuan praktis dan teoritis. Mereka lupa bahwa logika iptek tidak berjalan sebagaimana yang mereka pikirkan. Logika iptek bukanlah deretan fakta yang ajeg dan berlaku sepanjang masa. Iptek hidup dan berkembang dari hasil akumulasi, revisi, kritik dan pembaharuan yang terus menerus.

Saya sependapat dengan Lutfie Assyaukanie dalam hal ini: amat bahaya memandang Alqur’an sebagai ensiklopedi ilmu pengetahuan. Sebab, tidak ada yang abadi dalam ilmu pengetahuan. Pada suatu masa, suatu teori mungkin dianggap valid dan sesuai, tapi di lain waktu ia dikritik atau diganti dengan teori yang dianggap lebih benar. Jika Alqur’an diperlakukan demikian, tak tertutup kemungkinan terjadinya benturan antara agamawan versus ilmuwan seperti yang terjadi di zaman renaissence.

Saya ngeri sekali membaca karya-karya Harun Yahya yang amat ambisius menampilkan gambaran Islam yang ”serba ilmiah”. Ayat-ayat Alquran “dicocok-cocokan” dengan fenomena-fenomena alam dan sejarah. Gambaran ilmiah tersebut bukanlah gambaran yang objektif sebagaimana dalam sains murni. Ada kepentingan ideologis di situ: ingin menunjukan bahwa ilmu pengetahuan sesuai dengan “kebenaran” Islam atau sebaliknya. Yahya sangat menggebu-gebu saat menyerang Darwin tentang teori orang pertama yang dianggap bertentangan dengan Alquran.

Buku-buku sejenis Yahya ini, pada intinya sama-sama berangkat dari semangat apologi dan hampir punya pola yang sama. Pertama, fakta ilmmiah dicari rujukannya kepada sumber normatif Islam: Alqur’an dan Hadits. Kedua,menerapkan prosedur pemilahan fakta yang dianggap sesuai atau tidak dengan Alquran atau Hadits. Ketiga, fakta yang sesuai dijadikan justifikasi kebenaran Islam sebagai agama pro-pengetahuan. Keempat, yang tidak sesuai dianggap tidak benar kemudian dibuatkan bantahan-bantahannya.

Ilmiah dan Pseudo-Ilmiah

Buku-buku tersebut sebenarnya tak layak disebut karya ilmiah, tapi pseudo-ilmiah atau pseudo-sains. Saya pernah membaca buku pseudo-ilmiah karangan ulama Arab Saudi yang amat menggelikan. Di situ dinyatakan: bumi adalah pusat tatasurya, bahkan pusat alam semesta. Premis buku tersebut berangkat dari ayat Alquran tentang perputaran benda-benda angkasa seperti bulan dan matahari. Ini jelas teori yang berbahaya karena melibatkan agama dalam spekulasi ilmiah.

Kita boleh saja meyakini Islam sebagai agama yang pro-ilmu pengetahuan. Tapi, sikap itu tak perlu ditempuh dengan cara “mencocok-cocokan” atau mencari ayat mana yang sesuai dengan fakta ilmiah tertentu. Sikap yang benar adalah terbukanya nalar sehingga mau mempelajari ilmu pengetahuan darimanapun asalnya. Tidak perlu membeda-bedakan ilmu pengetahuan di bidang teknik maupun sosial.

Saya pribadi berpihak pada pembedaan antara agama dan sains. Pembedaan tersebut justru perlu untuk mengokohkan sekularisasi dan penting buat agama. Sains hanya bicara fakta-fakta, baik yang bersifat sosial maupun alam. Di sini berlaku verifikasi ilmiah yang dapat membuktikan secara pasti mana yang benar dan mana yang salah. Tugas agama lain lagi. Ia tidak berkutat dengan fakta-fakta ilmiah. Agama seperti kata Ulil Abshar-Abdalla, berurusan dengan makna atau pemaknaan. Di sanalah peran agama yang tepat, yaitu memberikan makna dalam kehidupan seseorang.

Karena itu, hendaknya kita tak terlalu ambisius mencari kesesuaian antara Alquran dengan fakta sains. Sebab, ketika ada clash antara sains dan agama, kita masih bisa mengikuti sains sambil tetap berpegang teguh pada ajaran agama. Agama yang benar tak bicara soal ketepatan ilmiah, melainkan ketepatan makna dalam menjalani kehidupan.

Penulis: Andriyansyah

Source: http://islamlib.com/id/artikel/sains-islami-atau-pseudo-sains/

=====================

Komentar Iman Kristen:

Tulisan seorang pakar muslim, seorang agamawan yang cerdas. Seandainya banyak muslim seperti anda, maka saya percaya akan terjadi keharmonisan antara Kristen dan Islam.

Tuhan memberkati pikiran cerdas anda.

Salam.

Entry Filed under: Sains. Tag: , , .

3 Comments Add your own

  • 1. dyver  |  November 27, 2008 at 1:15 am

    menarik..
    sependapat dgn Anda, pak iman..

    secara jujur saya akui terdapat banyak kesesuaian ilmiah antara beberapa fakta ilmiah dgn beberapa ayat Al-Quran..
    beberapa ayat Al-Quran jg cocok dgn nubuat akhir zaman..

    namun tdk berarti Quran itu yg menjadi the source of the science..
    beberapa hipotesis yg saya dpt:

    - science as an the input for the holy book, not the output -
    sebagaimana kita tahu, dunia Arab merupakan tempat pertemuan dunia Barat dan Timur.. itu berarti dunia Arab tempat berkumpulnya ilmu pengetahuan dr seluruh dunia.. bukan berarti sbg sumber input, tetapi tempat berkumpulnya output..

    - copy from previous holy books -
    nubuat tentang akhir zaman yg kebanyakan merupakan copy dr nubuat di kitab Wahyu..

    - accurate future prediction based on actions at his time -
    ramalan Arab akan menjadi negeri yg hijau.. menurut salah satu buku yg saya baca sih memang menjadi (sedikit) hijau karena sedang berusaha menciptakan massive plantation.. yg menurut saya (lagi-lagi) merupakan langkah yg tepat bagi Arab di masa depan utk mengembalikan kejayaan dunia Arab..

    - the creation of the ‘just-an-inch-to-perfect’ Angel -
    we know that the Fallen Angel was the most intelligent Angel and his intelligence was just-an-inch to God’s own.. n basically because he was an angel, he could’ve transformed himself into an Angel form, right?
    “Beware, Demon sometimes comes as an angel of light”..

  • 2. alni  |  Desember 4, 2008 at 5:14 am

    apa yang anda sampaikan harus punya data yang akurat. jangan subjektif

  • 3. teguhfriend  |  Agustus 17, 2009 at 2:48 pm

    Jelas al Qur’an bukan buku sains, namun juga ada banyak hal dalam al Qur’an, yang, sampai saat ini memang TERBUKTI kebenarannya. Kita tidak bicara hal yang masih spekulatif, tapi ambil saja misalnya perihal alaq, lebah, semut dalam al Qur’an. Alaq yang difahami segumpal darah ternyata bermakna sesuatu serupa lintah. Dulu banyak yang tak perduli dengan arti ini, karena memang tak ada yang tahu, (setidaknya sampai abad 20 ini, dimana mikroskop elektron ditemukan). Lantas, seorang prof. Keith Moore, pakar embiology Kanada ditanya soal apakah manusia pernah melalui fase seperti lintah, dia baru tersadar. Embriology modern memang membuktikan, (bukan spekulasi lagi), memang benar bentuk manusia awal mirip dengan gambaran lintah! Soal lebah juga begitu, perintah Tuhan menyuruh lebah membuat sarang berbentuk kata kerja feminin, yang artinya, pelakunya semua betina! Lalu, apa kata sains saat ini tentang lebah pekerja? Berjenis kelamin apakah mereka? BETINA, dan ini BUKAN spekulasi, tapi fakta sains yang ‘abadi’. Apakah nantinya lebah pekerja berubah jadi berkelamion jantan? Rasanya tidak bukan?
    Jadi, okelah, mungkin saja Harun Yahya terlalu ambisius, tetapi mengesampingkan fakta-fakta semacam ini, yang jumlahnya makin banyak itu, juga tidak mencerminkan sikap obyketif sejati. Saya kira, tak relevan mengkaitkannya dengan soal ‘ingin benar sendiri’, karena kita bicara soal obyektifitas. Silakan saja kita beragama apa pun, tapi hal itu tentu tak bisa membuat kita membantah fakta-fakta kebenaran yang benderang dari Qur’an. Dan, ketika mengemukakan soal ini, saya kira orang Islam tetap santun. Mencela teori Darwin? Ya karena memang terlalu banyak pemaksaan dan manipulasi yang akut, menghina akal sehat dan kemanusiaan! Sebagai manusia berakal sehat, dan kebetulan beragama Islam, masak kita tidak boleh mempertanyakan hal itu? Masak hal begitu dibilang nyinyir?

    Jadi, agama tentu saja berkaitan dengan pemaknaan, namun secara obyektif juga harus berurusan dengan fakta-fakta kebenaran. Justru jadi lucu dan aneh bila kita menentang hal ini. Kalau fakta-fakta kebenaran internal agama tertentu banyak yang ‘kedodoran’, dan hal itu secara obyektif memang exist, ya mau bilang apa? Tapi juga akui juga ‘dong, bila dalam Islam, fakta-fakta internalnya secara obyektif banyak yang benar. Tinggal kita, sebagai manusia dengan potensi akal sehat, diberi Tuhan untuk memilih, bukan? Yang menyedihkan, maaf sebelumnya, teman-teman Islib ini begitu menggebu-gebu menafikan, minimal menganggap tak penting fakta-fakta kebenaran internal Islam, hanya lantara pingin terlihat inklusif, baik hati, toleran. Sikap itu hanya menunjukkan kerendah dirian yang tidak pada tempatnya, tidak jujur, dan aneh. Mbok yang biasa-biasa saja. Sebagai orang Islam, saya fahami Islam dengan kebenaran internalnya, saya akui ada kritik-kritik terhadapnya, dan saya juga tahu kelemahan-kelemahan kritik itu, misalnya. Tapi saya tidak mengatakan yang bagus jadi jelek, atau menganggap kritik-kritik itu hanya bualan. Pendeknya, proporsional dan profesional saja.

Leave a Comment

Required

Required, hidden

Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed


RSS Belajar Islam

RSS Iman Kristen

RSS Refleksi Iman

Kategori

Tulisan Teratas

Komentar Terakhir

CosmicBoy di Muhammad Pernah Beragama …
DANI di Muhammad Pernah Beragama …
CosmicBoy di Bumi: Bulat vs Datar
abule di Bumi: Bulat vs Datar
davi di Tentang Saya
CosmicBoy di Pembunuhan: Yesus vs Muha…
yesus ngepongin sapi di Pembunuhan: Yesus vs Muha…
CosmicBoy di Pindah Agama : Kristen ke…
CosmicBoy di Muhammad Pernah Beragama …
sii alim di Pembunuhan: Yesus vs Muhammad…
CosmicBoy di Muhammad Pernah Beragama …
rachmat di Pindah Agama : Kristen ke…
ayo ngguyu di Muhammad Pernah Beragama …
ayo ngguyu di Muhammad Pernah Beragama …
DANI di Muhammad Pernah Beragama …

Meta