Fenomena Kartun : Komentar-1
November 28, 2008
Anda DILARANG membaca isi blog ini, sebelum menyetujui ISI dari pernyataan pada: http://islamkristen.wordpress.com/warning/
=============================================================
Di Suriah dan Libanon, Kedutaan Besar Denmark diserbu massa yang mengamuk. Di Jakarta, sebagian umat Islam membakar-bakar bendera Denmark dan menyerukan boikot atas produk-produk Denmark. Di Denmark sendiri, orang ultra-kanan mengancam akan membakar Alquran di tempat umum. Protes dan demo umat Islam Denmark pun menyusul. Orang Skandinavia di seluruh Timur Tengah diimbau pemerintahannya segera pulang ke tanah air masing-masing. Para duta besar semakin resah, dan ada pula yang sudah dipulangkan. Kok bisa sekacau ini?
Di Suriah dan Libanon, Kedutaan Besar Denmark diserbu massa yang mengamuk. Di Jakarta, sebagian umat Islam membakar-bakar bendera Denmark dan menyerukan boikot atas produk-produk Denmark. Di Denmark sendiri, orang ultra-kanan mengancam akan membakar Alquran di tempat umum. Protes dan demo umat Islam Denmark pun menyusul. Orang Skandinavia di seluruh Timur Tengah diimbau pemerintahannya segera pulang ke tanah air masing-masing. Para duta besar semakin resah, dan ada pula yang sudah dipulangkan. Kok bisa sekacau ini?
Seperti sudah diketahui, permasalahan bermula beberapa bulan lalu ketika koran Denmark, Jyllands Posten, memublikasikan dua belas karikatur Nabi Muhammad. Sudah diduga, protes umat Islam tidak perlu ditunggu lama, mengingat adanya larangan menggambarkan Rasulullah dalam Islam (larangan seperti itu juga terdapat di Perjanjian Lama, dan dengan demikian berlaku juga untuk umat Kristen dan Yahudi).
Pada awalnya, protes berjalan tenang dan beradab. Namun setelah Perdana Menteri Denmark menolak duta besar dari negara-negara mayoritas berpenduduk Islam, keadaan berubah drastis. Di Timur Tengah diadakan boikot besar-besaran atas produk-produk Denmark. Salah satu perusahaan susu di Denmark, sekarang sudah mem-PHK ratusan orang akibat boikot itu. Hubungan diplomatik sudah tak dapat dipakai lagi, dan seluruh masalah seolah-olah sudah dibajak oleh massa yang mengamuk.
Belum lama ini, sejumlah koran Eropa juga memuat karikatur itu untuk mendukung Jyllands Posten. Sudah barang tentu, pemuatan itu memperparah keadaan. Pemerintah RI secara resmi mengecam pemuatan itu, dan Partai Keadilan Sejahtera ikut menyerukan boikot atas produk-produk Denmark.
Bentrokan Peradaban?
Mungkin saja orang yang dari dulu mendukung tesis Samuel P. Huntington tentang bentrokan peradaban (clash of civilizations) kini menganggukkan kepala sambil berkata: ”Sudah saya duga”. Mungkin pula mereka melihat percekcokan antara negara-negara Eropa dan umat Islam sebagai salah satu bukti nyata terjadinya bentrok tersebut. Dan memang, susah disangkal kalau keadaan kacau yang sekarang makin meluas dapat ditafsirkan sebagai hasil bentrokan tadi. Hanya saja, tesis Huntington tetap tak dapat diandalkan jika permasalahannya dilihat lebih teliti lagi.
Saya tidak hendak menguji tesis Huntington, tapi ingin mengajak pembaca untuk merenungkan beberapa hal. Hal pertama langsung merujuk pada inti permasalahan, yaitu soal kebebasan menyatakan pendapat (freedom of speech)dan kebebasan beragama ataupun tidak beragama (freedom of religion). Kedua bentuk kebebasan ini dijunjung tinggi setiap negara demokratis, dan seringkali dikatakan kalau demokrasi tidaklah mungkin tanpa kedua aspek kebebasan ini.
Kebebasan menyatakan pendapat terkadang dapat pula ditafsirkan sebagai ”agama baru” di sejumlah negara yang sangat sekuler (terutama di negara-negara Skandinavia). Karena itu, dasar demokrasi di negeri-negeri ini juga termasuk kebebasan untuk memublikasikan karikatur Nabi Muhammad ataupun Tuhan, Budha, George W. Bush, Soekarno dan Ratu Adil, kalau ada yang berminat. Kebebasan pers juga salah satu pokok demokrasi yang tidak dapat ditawar-tawar. Jadi, apa saja boleh dimuat, tak ada yang suci lagi, selain kebebasan itu sendiri.
Apakah betul begitu? Klaim itu tak sepenuhnya benar, karena setiap hak pasti disertai kewajiban. Orang tetap dihukum, misalnya, karena menghasut kaum tertentu. Dilarang pula menyatakan pendapat yang dinilai terlalu ekstrim. Simbol-simbol kalangan Nazi, misalnya, terlarang disebarluaskan dengan alasan dapat menghasut kaum tertentu. Ini berarti kebebasan menyatakan pendapat tidaklah mutlak, tapi sedikit terbatas.
Lebih tepatnya, kebebasan menyatakan pendapat selalu disertai kewajiban untuk memikirkan dan berempati dengan kaum lain. Dan seharusnya, kebebasan juga harus disertai dengan pemikiran mengenai etika (walaupun ini semakin langka). Akhirnya, kebebasan menyatakan pendapat tidak identik dengan kewajiban menguji kebebasan itu terus-menerus, dan tidak pula identik dengan kewajiban untuk menghina dan memfitnah walau mungkin tetap dilindungi undang-undang.
Reaksi Umat Islam
Hal kedua yang perlu kita renungi ialah reaksi umat Islam. Bahwa umat Islam akan kebakaran jenggot setelah karikatur itu dimuat, sudah ditebak banyak orang (termasuk pimpinan redaksi Jyllands Posten yang telah berkonsultasi pada ahli sejarah agama di Copenhagen sebelum pemuatannya). Yang menarik, masalah karikatur Nabi ini baru jadi berita internasional dan isu hangat sekitar empat bulan setelah pemuatannya. Melalui duta-duta besarnya di Denmark, umat Islam sudah berusaha menyelesaikan masalah lewat jalur silaturahmi dengan PM Denmark. Hanya saja, PM Denmark menolak. Karena itu, umat Islam merasa lebih terhina; demo dan boikot tak terbendung lagi.
Apakah reaksi umat Islam itu masuk akal? Saya kira, perasaannya sendiri masuk akal, walau akibat nyata perasaan itu tidak dapat dikatakan masuk akal. Maksud saya, wajar saja umat Islam merasa ternoda, difitnah dan dipermainkan oleh pemuatan karikatur tersebut. Namun, itu tak berarti jalan pemecahan masalah adalah lewat jalur kekerasan, membakar-bakar Kedutaan Besar, serta menginjak-injak bendera Denmark. Hemat saya, sikap itu (hampir) sama rendahnya dengan aksi memublikasikan 12 karikatur tersebut. Cukup paradoksal; umat Islam justru secara tak langsung membenarkan kesan yang dimuat karikatur tersebut.
Solusi
Hal terakhir yang mau direnungi di sini ialah akar masalahnya dan bagaimana cara menghindarinya di masa mendatang. Akar masalahnya jelas sekali kesalahpahaman, kekurangtahuan, dan kedangkalan ilmu. Untuk menghindari babak kedua dan ketiga masalah serupa, diperlukan dua hal: dialog antaragama dan pengajaran sejarah agama-agama di sekolah-sekolah.
Dialog antaragama hendaknya tak hanya dilakuakan di pusat-pusat konferensi mewah yang melahirkan pernyataan bersama, tapi langsung di tengah-tengah masyarakat. Sebab, memang di sanalah dialog diperlukan. Untuk mempermudah dialog, hendaknya murid-murid (dari SD sampai SMA) diajarkan sejarah semua agama yang (pernah) ada di dunia. Anak beragama Islam harus punya pengetahuan mengenai agama Katolik, dan anak Kristen harus mengerti seluk-beluk agama Hindu. Dengan demikian, jangan ajarkan teologi, tapi ajarkanlah sejarah agama-agama di sekolah-sekolah! Teologi dan tata cara peribadatan agama masing-masing dapat diajarkan pada anak-anak di rumah, di masjid dan gereja, dan seterusnya (setelah jam sekolah selesai).
Akhirnya, ironis bukan bahwa Huntington menggunakan kata ”peradaban”(civilization). Mana ada peradaban yang berbentrokan seperti itu? Justru, tidak beradab itu…
André Möller, PhD (sejarah agama) dari Universitas Lund, Swedia. Penulis buku “Ramadan di Jawa: Pandangan dari Luar”.
Penulis: Andre Moller
Source: http://islamlib.com/id/artikel/karikatur-nabi-bentrokan-peradaban-atau-ketidakberadaban/
Tanggapan ImanKristen:
Tulisan yang sangat menggugah hati. Memang solusi dari permasalahan haruslah dilakukan dengan cara-cara yang sopan, baik dan elegan. Bukan dengan kekerasan yang sungguh tidak beradab. Tuhan memberkati pemikiran dan tulisan anda.
Entry Filed under: Kasus. Tag: Kartun Nabi, Fenomena Kartun Nabi, Fenomena Kartun.
15 Comments Add your own
Leave a Comment
Some HTML allowed:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <pre> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>
Trackback this post | Subscribe to the comments via RSS Feed
1.
Mehong | November 29, 2008 at 12:27 am
demo, bakar2an, lempar2an batu, bahkan demo telanjang bulat di negara2 barat itu sudah biasa.
Indonesia justru eforia kayak begitu baru ada sesudah jaman suharto, itupun meniru demo2 dari luar, untuk demo2 asusilapun sudah diadopsi, seperti demo UU APP yg dimotori bencong2 yg nunjukin buah dadanya………
Lagi2 umat islam yg disalahkan, blog iman kristen ini terus membuat opini publik bahwa cara2 umat islam penuh kekerasan dan tidak beradab, padahal cara2 ini justru baratlah yg menjadi acuannya…..
2.
jelasnggak | November 29, 2008 at 1:39 am
@mehong.
Kamu sudah baca berita…
Yang di MUMBAI itu lho…
Itu bukan salahnya umat islam ya..?
ngga mau disalahin ya..?
he he he…
salam damai jangan gembeng.
3.
xfmblora | November 29, 2008 at 3:18 am
Perbedaan Sudut pandang dari keimanan yang berbeda, membuat kita tidak akan bisa sepaham. Seandainya kita bisa sepaham, dari dulu pasti kita bisa damai tidak gembeng.
Bunuh seratus orang mungkin tindakan yang kejam. tapi lebih kejam lagi bila saudara-saudara yang ada di gaza di blokade. Jumlahnya jutaan orang. Tidak mendapat suplai makanan, minuman, energi, dan tenaga medis.
Apakah itu tidak lebih kejam…!!!
salah bertanya, benar menjawab
4.
makan123 | November 29, 2008 at 5:36 am
apaan tuh berita sudah jelas ga mungkin terjadi lah la wong jamannya aja beda berapa abad tuh kok bisa2nya bilang kalo yesus malah lwn Nabi Muhammad SAW itu berita ga benar jgn di tanggapi all sebaiknya jauhi aja karena berita bohong tuh bisa aja di karang orang lain ini membuat umat islam marah aja geram wa >_<
5.
putra | Desember 10, 2008 at 3:34 pm
klu menurut saya pribadi..klu menghina Nabi Muhammad,harus di hukum mati pada pelakunya
6.
jelasnggak | Desember 10, 2008 at 5:20 pm
@putra.
Emangnya di tulis di quran bahwa kalau menghina Muhamad harus dihukum mati
kalo ada coba tulis.
Kalo ngga ada…apa tuh namanya orang yang suka membunuh..
salam damai jangan gembeng
7.
Isyana | Desember 24, 2008 at 11:08 am
Hi..
Nah,nah,..lg2 prang intrnet..bgni ya mas2,mbak2 yg pnya intelegensia yg tnggi (yg kdng2 sok teologis).Nabi Muhammad tu agung.kLu mw mnggmbr slhkan sja gmbr Yesus Kristus.Islam mngaplikasikan sosok yg suci sbgai chaya.prnhkah anda mlihat Muhammad
8.
Isyana | Desember 24, 2008 at 11:13 am
atau dngr Muhammad dikiaskan atau dktkan brtlnjang? Tdk kan?!brbda dgn (mav bwt yg sok teologis) Isa a.s yg diprlhtkan lkuk tbuh’y?Islam mmakai chaya sbg pnggmbran (dlm smw hal) smua nabi bkan Muhammad aja.Islam tdk mbda2kan nabi’y. Mw Adam atw siapapun.
9.
Isyana | Desember 24, 2008 at 11:20 am
..marthin luther seorg biarawan dhukum mti oleh pndta(yg teologìs twlah sy crta pa) krna dy prtes.”mosok pngampunan dosa msti pke kupon sma pjak?”dy mnmplkan krtas prtes didnding grja.eh..tw2′y tnggal nama.
Bgtu jg dgn galileo,mti gra2 blg bmi blat.
10.
Isyana | Desember 24, 2008 at 11:25 am
Galileo(yg intelegensia’y tnggi psti tw).
Blg ‘bumi tu bulat’,tntu sj brtntngan dgn hkum Kristen yg mencap bmi datar.Galileo dibakar hdup2(hkum cnta ksih?)oleh pra biarawan.malang bnar..
Jd,sdah spnts’y kta brdamai.yg Kristiani ayo jd domba yg pnrut.
11.
sancai | Juli 25, 2009 at 2:54 pm
yo wis ojo podo nesu. lebih baik kita saling menhhargai jangan menggambarkan kejelekan pada sesuatu yang dianggap orang lain adalah hal yang sakral atau suci. siapapun orangnya akan marah kalo sesuatu yang ia agungkan di lecehkan orang lain. bukan kah demokratis ada batasnya ??? yaitu kebebasan yang terbatasi oleh hak yang laninnya, jangan kita mengatasnamakan kebebasan untuk menginjak orang lain baik secara fisik maupun ideologi hayo bebarengan saling menghargai ok
12.
Cekixkix | Agustus 3, 2009 at 8:58 am
Yesus avatarnya sama dengan Cekixkix…kix…kix…
13.
Cekixkix | Agustus 3, 2009 at 8:59 am
Comix Cekixkix sama dengan Comix Yesus…. Cekixkix…kix…kix…
14.
maulanafb | Agustus 31, 2009 at 8:32 am
heh kristen babi,bagi lo kan babi halal jadi kl di tegesin lama muka lo ky babi,kl islam ! babi,anjing,homer itu haram. jd penganut kristen itu KELAKUAN & WAJAH NYA mirip apa yg mereka halalin,sorry ya bos becanda,tapi emang kl gw perhatiin emang bener.
15.
mazterall | September 1, 2009 at 5:47 am
@maulanaf
mas, kalau begitu kelakuan muslim yang suka ngebom n kawin banyak itu mirip apa mas??
apa nda mirip kucing mas?kucing kan suka kawin..
trus muslim2 yang jenggotan itu mirip kambing ya mas kalau dilihat2..
sory juga